Kamis, 03 Januari 2013

RUQYAH DENGAN SEDEKAH



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Sedekah asal kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata. Sedekah dalam pengertian di atas oleh para fuqaha (ahli fikih) disebut sadaqah at-tatawwu' (sedekah secara spontan dan sukarela).
Menurut Imam Nawawi oreang yang suka bersedekah adalah orang yang benar-benar beriman secara lahir dan batin, dia membuktikan keimanannya dengan bersedekah (Abdurrahman 2009, hh. 1)

B.     Hukum Sedekah
Sedekah hukumnya sunah, sama dengan hukum infak. Ketentuannya juga sama dengan infak. Namun ada perbedaan antara infak dan sedekah. Infak hanya berkaitan dengan pemberian berupa harta. Sedangkan sedekah, tidak terbatas kepada harta saja. Contoh sedekah yang bukan harta, kita dapat bersedekah dengan membaca tasbih, takbir, dan tahmid. Menyuruh kepada kebaikan dan melarang keburukan. Setiap kebaikan adalah sedekah (Abdurrahman 2009, h. 1-2)

C.    Perintah bersedekah
Islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menolong orang lain tentu saja dalam hal ini tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-maa’idah (5) ayat 2. Salah satu bentuk pertolongan itu adalah dengan bersedekah atau menginfakan sebagian harta kita kepada orang yang membutuhkannya. Bahkan, Allah menolong kita selama kita mau menolong orang lain.
Rasulullah Saw bersabda “Dan Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya” (HR Muslim).
Di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum Muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah. Di antara ayat yang dimaksud adalah firman Allah SWT yang artinya:
''Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.'' (QS An Nisaa [4]: 114).

D.    Keutamaan Sedekah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar memuliakan orang-orang yang bersedekah. Ia menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi orang-orang yang gemar bersedekah. Terdapat ratusan dalil yang menceritakan keberuntungan, keutamaan, kemuliaan  orang-orang yang bersedekah. Ibnu Hajar Al Haitami mengumpulkan ratusan hadits mengenai keutamaan sedekah dalam sebuah kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa Ja’a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah, meskipun hampir sebagiannya perlu dicek keshahihannya. Banyak keutamaan ini seakan-akan seluruh kebaikan terkumpul dalam satu amalan ini, yaitu sedekah. Maka, sungguh mengherankan bagi orang-orang yang mengetahui dalil-dalil tersebut dan ia tidak terpanggil hatinya serta tidak tergerak tangannya untuk banyak bersedekah.
Diantara keutamaan bersedekah antara lain :
1.      Sedekah dapat menghapus dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)
Diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar ‘impas’ tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari makar Allah, yang merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99)
2.      Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:
“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)
3.      Sedekah memberi keberkahan pada harta.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)
Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi ‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.”
4.      Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
5.      Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah.
“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”(HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)
6.      Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim no.223)
An Nawawi menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”
7.      Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)
8.      Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)
9.       Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan yang bagus tentang orang yang dermawan dengan orang yang pelit:
“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.”

E.     Saran-saran bagi seseorang yang akan melakukan sedekah
Banyak saran-saran yang dapat menjadi masukan bagi seseorang yang akan melakukan sedekah sebagai terapi ilahiyah untuk penyakit yang dideritanya atau sanak keluarganya.


1.      Niat dan Yakin.
Semua pekerjaan apapun  yang akan dilakukan, baik buruk hasilnya ditentukan oleh niat pelakunya. Niatkan beramal sedekah untuk kesembuhan penyakit yang diderita. Rasulullah saw bersabda:
”Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya, Dan sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari). Serta yakin dan berperasangka baik, bahwa Allah akan mengabulkan niat kita.
2.      Bersedekah dengan yang Terbaik
Allah Maha Baik, dan tidak akan menerima kecuali yang baik-baik saja. Dengan demikian, layaknya kita besedekah dengan harta atau barang yang baik. Allah swt berfirman:”Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dai hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya. Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Qs Al-Baqarah ayat 267 ). Ada pendapat dalam hal ini, yang dimaksud harta yang baik,  baik secara kualitas dan kuantitas sesuai dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 92 :”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), hingga kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Selain itu juga baik dalam mendapatkannya sehingga berstatus halal. Sabda Rasulullah saw:”Barangsiapa yang mengumpulkan harta yang haram, kemudian bersedekah dengannya, maka tidak ada pahala baginya, dan dosanya akan ditimpakan kepadanya .
3.      Ikhlas
Ikhlas adalah landasan semua amaliah termasuk bersedekah untuk menggapai ridha Allah swt. Walaupun kita seakan-akan memiliki tendensi lain dalam bersedekah, yakni ingin mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang menyerang. Meniatkan sedekah untuk kesembuhan, Insya Allah tidak meniadakan eksistensi keikhlasan yang murni karena Allah swt.
Sebuah amalan yang dilandasi keikhlasan yang besar dan sempurna, tentu juga akan mendapatkan balasan yang besar dan sempurna juga. Ada tujuh golongan yang dijamin selamat dan dilindungi oleh Allah di hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya, Rasulullah saw menyebutkan diantaranya adalah: “….Dan seseoang yang mengeluarkan sedekah kemudian menyembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanannya……”.Realisasi lain dari keikhlasan dalam sedekah di firmankan oleh Allah swt :”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu denga menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat , lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang –orang  yang kafir.” (Al. Baqarah ayat 264).
4.      Diberikan Tepat Sasaran
Sedekah sebaiknya diberikan kepada orang yang pantas untuk diberi agar berkah. Orang yang benar-benar membutuhkan, anak yatim yang miskin, shalih, dan bertakwa adalah sasaran yang tepat untuk bersedekah. Sabda Rasulullah saw:”Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang bertakwa.” (HR.Tarmidzi dan Abu Dawud). Sedekah tidak harus diberikan kepada manusia, sesuai hadits Nabi saw:”Di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya.” Dari hadits tersebut bisa dimaknai sedekah bisa diberikan kepada makhluk lain termasuk binatang.
Bersedekah jangan menunggu datangnya cobaan ataupun sakit, bersedekah yang utama adalah di saat kita dalam keadaan sehat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Seseorang datang menemui Rasulullah saw, dan bertanya,”Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Beliau pun bersabda:”Hendaklah engkau bersedekah dalam keadaan sehat, amat membutuhkannya, khawatir miskin, dan berangan-angan menjadi orang kaya. Janganlah menunda-nunda (sedekah), sehingga jika ajal telah sampai ke kerongkongan engkau berkata,’Untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian’. Padahal harta itu memang untuk si fulan.” (HR.Bukhari dan Muslim).

F.     Dahsyatnya Sedekah
Sebagai umat muslim kita harus banyak bersyukur, karena berdasarkan penelitian dan pengalaman empiris manusia, muncul metode pengobatan yang sudah ada mulai jaman Rasulullah saw, yang disebut pengobatan Ilahiyah. Pengobatan Ilahiyah akhir-akhir ini menjadi sorotan para umat Islam yang dapat menjadi solusi “ajaib” untuk menyembuhkan penyakit yang bersarang dalam tubuh manusia,  ketika pengobatan medis telah angkat tangan. Dalam edisi ini penulis akan mengangkat salah satu yang diterapkan dalam pengobatan Illahiyah, yaitu salah satu amalan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya yang akan membawa dampak positif di dunia dan di akherat, yaitu dengan ber-“sedekah”.
Banyak orang mungkin tidak mengerti atau mungkin bahkan tidak tahu kalau “sedekah” memiliki khasiat dan kekuatan yang amat dahsyat bagi umat manusia yang melaksanakannya. Mungkin oleh karena sedekah adalah sebuah amaliah ibadah yang kurang diminati oleh mayoritas kaum muslim, karena terkesan menyebabkan berkurangnya harta.
Untuk golongan orang awam, mungkin mereka mengira semua hanya omong kosong  atau mereka menganggap omongan orang yang putus asa, bila mendengar bahwasanya “sedekah” merupakan salah satu obat mujarab untuk semua penyakit. Di dalam ilmu kedokteran secara teoritis ataupun praktek memang tidak ada, dan dipikir secara akal tidak mungkin semua itu bisa. Tapi perlu diingat bahwa “ Allah Maha Segalanya “. Allah berfirman :”Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya ,’Jadilah’, maka jadilah ia.” (Qs Maryam ayat 19). Di surat Yaasiin ayat 82 Allah juga berfirman:”Sesungguhnya perintah Allah jika menghendaki sesuatu hanya Kun (jadilah), maka terjadilah apa yang dikehendaki Allah.” Itulah kekuasaan Allah. Sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ummu Syarik:”Berobatlah, wahai haba-hamba Allah, karena Allah tidak menciptakan penyakit kecuali juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit yaitu tua.” Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda:”Obat termasuk takdir. Obat bermanfaat bagi siapa yang Allah kehendaki berupa apa yang Allah kehendaki,”

G.    Sedekah Mengobati Penyakit
Dari al-Hasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Obatilah orang-orang sakit kamu dengan sedekah”. (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi, dan dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam shahih targhib no 744)
Suatu kisah nyata terjadi pada Imam al-Hakim Abu Abdillah penulis kitab al mustadrak. Beliau pernah terkena penyakit borok di wajahnya, ia sudah berusaha berobat dengan segala cara namun tak kunjung sembuh. Beliaupun datang kepada abu Utsman ash-Shabuni agar mendo’akan kesembuhan untuknya. Abu Utsman pun mendo’akannya di hari jum’at dan banyak orang yang mengaminkan.
Di hari jum’at mendatang, datanglah seorang wanita membawa secarik kertas dan bercerita bahwa ia telah bersungguh sungguh mendo’akan untuk kesembuhan beliau. Lalu wanita itu bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersabda: “Katakan kepada abu abdillah.. Hendaklah ia mengalirkan air untuk kaum muslimin.” Maka beliau pun segera membangun sumur di dekat rumahnya dan menyediakan airnya untuk diminum oleh manusia. Seminggu kemudian, tampak kesembuhan terlihat pada wajah beliau dan akhirnya hilang sama sekali. Dan beliau hidup beberapa tahun setelah itu. (Shahih targhib no 964)
Insya Allah sedekah yang sepadan dengan penyakit atau musibah yang diderita bisa menjadi obat penyembuh. Bisa dengan memberi makan orang fakir, menanggung beban anak yatim, mewakafkan harta, atau mengeluarkan sedekah jariyah. Jika kesembuhan belum kunjung datang, mungkin Allah memperpanjang sakit untuk sebuah hikmah yang dikehendaki-Nya atau karena kemaksiatan yang menghalangi kesembuhan. Jika demikian cepatlah bertaubat dan perbanyak doa di sepertiga malam terakhir.

Banyak pendapat para Ulama Salaf tentang sedekah, yang merupakan amalan yang paling utama dari amalan-amalan lain, diantaranya :
Umar berkata,”Sesungguhnya, di akhirat kelak, amalan saling membanggakan diri. Maka sedekah berkata,”Aku yang paling utama dari kalian (amalan-amalan lain).”
Abdul Aziz bin Umair berkata,”Shalat mengantarkanmu menuju setengah perjalanan, puasa mengantarkanmu pada pintu kerajaan, dan sedekah memasukanmu ke dalamnya.”
Di dalam kitab Ihya Ulumudin jilid 1 halaman 226, Ibnu Abi al-Ja’d menegaskankan,”Sesungguhnya sedekah menolak 70 pintu keburukan .”
Dalam pendapat lain, Yahya bin Mu’adz dalam kitab al-Mustathraf beliau berkata,”Aku tidak tahu biji yang timbangannya sebanding gunung di dunia kecuali dari sedekah.”
Pendapat lainnya, Ali bin Abi Thalib berkata,” Siapa yang dikaruniakan harta oleh Allah, maka hendaknya menyambung silaturrahmi, menghormati tamu, menyenangkan yang sedih dan tawanan, orang yang dalam perjalanan (musafir), orang-orang fakir miskin, para mujahid, dan hendaknya bersabar menghadapi musibah, karena dengan semua ini kemuliaan dunia dan kebahagiaan di akhirat didapatkan.”
Abu Hatim as-Sibti berkata,” Bakhil adalah pohon di neraka yang dahannya ada di dunia. Siapa yang bergantung dengan dahan-dahannya, ia akan mendorongnya ke neraka. Sebagaimana dermawan adalah pohon di surga dan dahan-dahannya di dunia. Siapa yang bergantung dengan dahan-dahannya, maka ia akan mendorongnya ke surga, dan surga adalah rumah orang-orang dermawan.”










DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Fuad 2009, Kehebatan Sedekah, PT Mizan Pustaka, Bandung.
Admin, 2012, Dahsyatnya Sedekah Di Bulan Ramadhan, Diposkan tanggal , http://brc-cibaduyut.com/dahsyatnya-sedekah-di-bulan-ramadhan/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar